Jumat, 13 Januari 2012

makalah perubahan masa nifas pada tanda-tanda vital


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Masa nifas adalah dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta dan mencakup enam minggu berikutnya.
Menurut Prawirohardjo, 1991, masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sediakala dalam waktu 3 bulan.
Menurut Syaifuddin, 2002, masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas kurang lebih selama 6 minggu.
Dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah masa persalinan alat-alat kandungan setelah melahirkan yang berlangsung kira-kira 6 minggu dan kembali seperti keadaan sebelum ada kehamilan dan memerlukan waktu selama 3 bulan.
1.2 Rumusan Masalah
Untuk mengetahui Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Tanda-Tanda Vital
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan tentang Tanda-Tanda vital pada Masa Nifas
2. Mengkaji nilai normal tanda-tanda vital
3. Menjelaskan definisi Masa Nifas






BAB II
PEMBAHASAN

Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Tanda-Tanda Vital
Definisi  masa nifas
Masa nifas adalah dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta dan mencakup enam minggu berikutnya.
Menurut Prawirohardjo, 1991, masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sediakala dalam waktu 3 bulan.
Menurut Syaifuddin, 2002, masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas kurang lebih selama 6 minggu.
Dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah masa persalinan alat-alat kandungan setelah melahirkan yang berlangsung kira-kira 6 minggu dan kembali seperti keadaan sebelum ada kehamilan dan memerlukan waktu selama 3 bulan.
Pada masa nifas, tanda-tanda vital yang harus dikaji antara lain:
  1. Suhu badan.
  2. Nadi.
  3. Tekanan darah.
  4. Pernafasan.
.
Suhu adalah pernyataan tentang perbandingan (derajat) panas suatu zat. Dapat pula dikatakan sebagai ukuran panas / dinginnya suatu benda

Suhu
tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat Celcius. Pasca melahirkan, suhu tubuh dapat naik kurang lebih 0,5 derajat Celcius dari keadaan normal. Kenaikan suhu badan ini akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan maupun kelelahan. Kurang lebih pada hari ke-4 post partum, suhu badan akan naik lagi. Hal ini diakibatkan ada pembentukan ASI, kemungkinan payudara membengkak, maupun kemungkinan infeksi pada endometrium, mastitis, traktus genetalis ataupun sistem lain. Apabila kenaikan suhu di atas 38 derajat celcius, waspada terhadap infeksi post partum.


2.2.Nadi
Nadi adalah aliran darah yang menonjol dan dapat diraba di berbagai tempat pada tubuh. Nadi merupakan indikator status sirkulasi. Sirkulasi merupakan alat melalui apa sel menerima nutrien dan membuang sampah yang dihasilkandari metabolisme. Supaya sel berfungsi secara normal, harus ada aliran darah yang kontinu dan dengan volume sesuai yang didistribusikan darah ke sel-sel yang membutuhkan nutrien.

Denyut
nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali per menit. Pasca melahirkan, denyut nadi dapat menjadi bradikardi maupun lebih cepat. Denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit, harus waspada kemungkinan infeksi atau perdarahan post partum.
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik antara 90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah biasanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada post partum merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi.

Proses menghirup oksigen dari udara serta mengeluarkan karbon dioksida,uap air dan sisa oksidasi dari paru – paruPernafasan Menurut Tempat Terjadinya Pertukaran Gas.Pernapasan internal adalah pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara darah dalam kapiler dengan sel-sel jaringan tubuh.Pernapasan eksternal adalah pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang terjadi antara udara dalam gelembung paru-paru dengan darah dalam kapiler.
Frekuensi pernafasan normal pada orang dewasa adalah 16-24 kali per menit. Pada ibu post partum umumnya pernafasan lambat atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran nafas. Bila pernafasan pada masa post partum menjadi lebih cepat, kemungkinan ada tanda-tanda syok.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Masa nifas adalah dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta dan mencakup enam minggu berikutnya.
Menurut Prawirohardjo, 1991, masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sediakala dalam waktu 3 bulan.
Menurut Syaifuddin, 2002, masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas kurang lebih selama 6 minggu.
Dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah masa persalinan alat-alat kandungan setelah melahirkan yang berlangsung kira-kira 6 minggu dan kembali seperti keadaan sebelum ada kehamilan dan memerlukan waktu selama 3 bulan.

























Referensi
Ambarwati, 2008. Asuhan
Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 84-85).
Anam. 2009. Pemeriksaan Frekwensi Pernafasan. anam56.blogspot.com/2009/01/d.html diunduh 28 Feb. 2010, 3:20 PM.
Kuliahbidan. 2008. Perubahan dalam Masa Nifas.
kuliahbidan.wordpress.com/2008/09/19/perubahan-dalam-masa-nifas/ diunduh 6 Feb. 2010, 02:25 PM.
Saleha, 2009. Asuhan
Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (hlm: 61).
shvoong.com/medicine-and-health/m-genetics/1895771-jurus-mengatasi-
darah-tinggi-hipertensi/ diunduh 28 Feb. 2010, 11.05 AM.
Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 83-84).                  
















Kamis, 12 Januari 2012

GENITALIA EKSTERNA DAN INTERNA WANITA



Genitalia Eksterna Wanita memiliki 3 fungsi utama :
  1. Jalan masuk sperma kedalam tubuh
  2. Melindungi organ genitalia interna dari mikroorganisme
  3. Seksual
clip_image002
Gambar1. Organ reproduksi eksternal pada wanita. Dinding vagina anterior terbawah terlihat di balik labium minus. Pada nulipara, orifisium vaginae tidak mudah terlihat (inset) oleh karena kedua labium minus yang saling mendekat
Pudenda sering disebut sebagai vulva dan meliputi semua struktur yang terlihat diantara pubis sampai perineum.
·         Mons Pubis ( mons veneris ) terdiri dari jaringan lemak yang berada pada dinding depan abdomen diatas simfisis pubis.
·         Labium Majus. Terdiri dari 2 buah lipatan kulit memanjang dari mons pubis kearah postero-inferior dan menyatu dibagian posterior membentuk commisura posterior. Secara morfologis struktur ini identik dengan skrotum pada laki-laki.
·         Labium Minus. Berupa dua buah lipatan kulit yang berjalan dari klitoris dan menyatu dibagian posterior untuk membentuk frenulum labia minora atau fourchette.
·         Klitoris. Berada di ujung anterior labia minor. Terdiri dari 2 buah corpus cavernosum yang merupakan jaringan erektil di dalam selaput tipis jaringan ikat dan sebagian diantaranya menyatu sepanjang tepi medial untuk membentuk korpus klitoris.
clip_image002[7]
Gambar 2 Bagian sebelah dalam organ reproduksi eksternal wanita. Pada sisi kanan gambar – gambaran struktur kulit dan jaringan subkutis dihilangkan
Vestibulum vaginae. Berupa cekungan memanjang antara labia minor dan orifisium vaginae. Lokasi klitoris berada dibagian ujung anterior vestibulum yang berbentuk segitiga. Pada orang dewasa memiliki 6 buah lubang yaitu :
  • Urethra
  • Vagina
  • 2 buah saluran kelenjar Bartholine
  • 2 buah saluran kelenjar paraurethral (Skene)
Meatus urethra eksternus. Terletak 2 – 2.5 cm dibagian posterior basis klitoris. Pada kedua sisi MUE terdapat 2 pasang saluran kelenjar paraurethralis (Skene’s) yang mempunyai arti klinis dalam infeksi Gonococcus atau infeksi non-spesifik lain.
Ductus paraurethralis identik dengan kelenjar Prostate pada laki-laki.
Bulbus vestibuli. Struktur jaringan erektil yang berada dikedua sisi orofisium vaginae yang menempel dengan permukaan inferior diafragma urogenitalis dan tertutup oleh muskulus Bulbocavernosus (sfingter vaginae).
Bulbus vestibuli berukuran panjang 3 – 4 cm dan diameter 1 – 2 cm. Mudah cedera saat persalinan dan menyebabkan hematoma vulva atau perdarahan eksternal.
Struktur ini homoloog dengan corpus cavernosus urethrae pada laki-laki.
Glandula Bartholine. Sepasang kelenjar yang terletak pada kedua sisi orifisium vaginae. Berupa masa bulat dengan ukuran bervariasi antara 0.5 – 1 cm. Masing-masing kelenjar memiliki saluran sepanjang 2 cm dengan orifisum yang terletak diantara labia minor dan orifisium vagina. Fungsinya adalah menghasilkan sekret pada saat libido meningkat. Mudah mengalami infeksi dengan kuman Gonococcus. Struktur ini identik dengan glandula Bulbourethral (Cowper’s) pada laki-laki.
Orifisium Vaginae. Terletak postero-inferior dari Meatus Urethrae Eksternus dengan bentuk dan lebar yang derajatnya sesuai dengan virginitas – usia dan paritas.
Himen. Lipatan selaput membran tipis yang melingkari orifisium vagina. Terdapat berbagai jenis lubang hymen: annular – cribiformis – septum – imperforatus. Sisa-sisa himen pada multipara disebut sebagai caruncula Myritiformis.
Vagina. Saluran musculo-membrane yang terbentang dari vestibulum sampai uterus. Berjalan kearah postero-superior dan membentuk sudut tajam dengan servik uteri sehingga dinding posterior vagina akan lebih panjang (sekitar 1.5 – 3 cm) dibandingkan dengan dinding anterior (6 – 7.5 cm).
Penonjolan servik kedalam vagina akan membentuk Cavum Douglassi dan membagi puncak vagina menjadi fornix anterior - posterior dan lateralis.
clip_image002[1]
Gambar 3. Penampang sagital panggul wanita dewasa yang memperlihatkan hubungan antara organ viscera panggul
Di bagian anterior, vagina berbatasan dengan trigonum vesicalis ; dan di bagian posterior dengan rektum.
Dibagian posterior, ¼ bagian distal vagina terpisah dari saluran anus dengan corpus perinealis ; 2/4 bagian tengah vagina berhimpitan dengan ampula recti ; ¼ bagian proksimal vagina dibelakang fornix posterior tertutup dengan peritoneum membentuk Cavum Douglassi.
Lendir yang membasahi vagina berasal dari servik yang menjadi asam akibat fermentasi glikogen epitel oleh bakteri vagina.
Vagina terdiri dari lapisan epitel pipih bertatah, otot dan jaringan ikat dibagian luar.
Fungsi vagina : organ copulasi, saluran keluar (darah haid), dan sebagai jalan lahir.
clip_image002[3]
Gambar 5. Komponen superfisial perineum
clip_image002[5]
Gambar 6. Komponen profunda perineum
Perineum.
Perineum dibentuk oleh sejumlah struktur seperti terlihat pada gambar 5 dan 6. Sebagian besar fungsi penyangga perineum merupakan tugas dari diafragma pelvik dan diafragma urogenitalis
Diafragma pelvik terdiri dari :
  • mm. Levator Ani
  • m. Coccygeus (dibagian posterior)
Diafragma urogenitalis terletak diluar diafragma pelvis dan meliputi daerah segitiga antara tuberischiadica dan simfisis pubis. Diafragma urogenitalis terdiri dari :
  • m. Tranversus perinealis profunda
  • m. Constrictor urethrae
  • fascia penutup bagian superfisial dan profunda.
Gambar 5 dan 6 memperlihatkan adanya kedekatan lokasi antara sfingter ani eksterna dengan comissura posterior.
clip_image002[7]
Gambar 7. Anatomi anorectum. Gambar ini memperlihatkan hubungan antara sfingter ani eksterna dan interna serta m.levator ani
Gambar 7 menunjukkan adanya hubungan antara sfingter ani eksterna dan interna. Cedera pada kedua sfingter tersebut dapat mengakibatkan terjadinya inkontinensia alvi.
Pasokan darah pada perineum terutama berasal dari arteri Pudenda Interna dan percabangannya antara lain a.rectalis inferior dan a.labialis posterior.
Inervasi perineum terutama melalui n.Pudendus dan percabangannya.
N.Pudendus berasal dari S 2-3-4

GENITALIA INTERNA WANITA


Organ genitalia interna atau secara awam bisa disebut sebagai alat kelamin dalam wanita terdiri atas liang sanggama (vagina), rahim, saluran telur dan indung telur. Disebut alat kelamin dalam karena memang letaknya berada di dalam tubuh sehingga tidak terlihat dari luar. Fungsi utama organ tersebut adalah sebagai alat reproduksi (prokreasi) disamping untuk alat untuk kenikmatan seksual (rekreasi).
Organ-organ genitalia interna berada di dalam rongga panggul /pelvis. Organ ini berbatasan langsung dengan saluran kemih di bagian depan dan saluran pencernaan di bagian belakangnya. Di rongga panggul organ genitalia interna digantung ke dinding perut dan dasar panggul oleh ligamentum pada beberapa titik sehingga organ tersebut tetap pada tempatnya dapat diibaratkan sebagai orang yang sedang duduk di ayunan.
·         Vagina adalah saluran yang menghubungkan bagian luar tubuh (vulva) dengan rahim dan bersifat elastis (mudah meregang). Saluran ini memiliki panjang 7-10 cm dan lebar kurang dari 2,5 cm. Pada saat terjadi rangsangan seksual saluran ini akan bertambah panjang hingga 12-15 cm dan lebar 2.5-5 cm. Pada saat bersalin vagina meregang hingga diameter 10 cm agar dapat dilalui kepala dan tubuh bayi. Pada bagian dalam, liang vagina berbatasan langsung dengan mulut rahim. Fungsi vagina adalah sebagai tempat terjadinya hubungan seksual (kopulasi), jalan keluar darah haid dan persalinan.
·         Rahim (uterus) adalah organ yang berongga dengan dinding otot tebal berlapis tempat tumbuh kembang janin. Pada saat tidak hamil ukuran rahim sebesar telur ayam dengan ukuran panjang 7 cm dan berat sekitar 60 gram. Pada saat mendekati kelahiran rahim dapat membesar hingga mencapai bawah ulu hati dengan berat hingga 1-2 kg. Bagian paling bawah disebut mulut rahim (serviks) yang berada dalam liang vagina. Badan rahim berongga untuk proses tumbuh kembang janin dan terhubung dengan saluran telur di kedua sisi bagian atas rahim. Rahim terdiri dari otot polos yang saling bersilangan yang berkontraksi saat haid atau bersalin. Dalam rongga rahim dilapisi oleh selaput lendir rahim (endometrium) yang berguna sebagai “bantalan” bagi janin yang tumbuh. Apa bila tidak digunakan endometrium akan luruh setiap bulannya bercampur darah haid.
·         Saluran telur (tuba uterina falopii) adalah saluran antara rongga rahim dengan indung telur. Pada bagian ujungnya saluran telur berbentuk seperti jemari disebut fimbria berfungsi menangkap sel telur yang dilepaskan indung telur saat ovulasi. Setiap wanita yang normal memiliki sepasang di kiri dan kanan. Panjang masing-masing saluran ini sekitar 10-12 cm. Saluran telur bagian ujung, sekitar dua pertiga  panjang saluran, disebut ampula yang merupakan tempat terjadinya pertemuan antara sel telur dan sel sperma (fertilisasi). Kemudian embrio yang berkembang akan bergerak menuju rongga rahim dengan bantuan sapuan rambut-rambut getar (silia) di dinding saluran telur dalam waktu 7 hari
·         Indung telur (ovarium) adalah sepasang kelenjar yang berbentuk oval kira-kira sebesar ibu jari yang merupakan tempat produksi sel telur dan hormon terutama estrogen dan progesteron (sebagian kecil memproduksi hormon kelaki-lakian (androgen) dan hormon lain seperti inhibin, follistatin dan hormon dan faktor pertumbuhan. Setiap wanita memiliki sepasang indung telur di kiri dan kanan. Sepasang indung telur ini akan bergantian memproduksi sel telur setiap bulannya. Indung telur mulai aktif bekerja pada saat mulai datangnya haid sekitar usia 10-12 tahun dan akan berhenti saat mati haid (menopause).
            Di dalam indung telur terdapat ratusan ribu hingga jutaan sel telur namun setiap bulan normalnya dari beberap sel telur yang berkembang hanya ada satu sel telur yang matang dan siap dibuahi.
untitled325 300x150 Anatomi genitalia interna wanita
Penampang alat kelamin dalam wanita (potongan koronal/tampak depan)

Rujukan :
  1. Drife.J , Magowan B (ed) : Clinical pelvic anatomy in Clinical Obstetric Gynaecology. Saunders 2004
  2. Krantz KE : Anatomy of The Female Reproductive System in Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment 9th ed McGraw-Hill Co, 2003